LEGENDA

INDRA MOCHAMAD TOHIR, DRS. H. (INDRA TOHIR)

Photobucket - Video and Image Hosting

Dalam sejarah PSSI, PERSIB banyak memberikan sumbangan kepada PSSI, baik dalam organisasi maupun berupa materi pemain. Pada kesebelasan Nasional yang pertama (1950), PERSIB Menyumbangkan pemain, Aang Witarsa dan Yahya. Bahkan selanjutnya bintang-bintang PERSIB menjadi pemain terkemuka PSSI, seperti Ade Dana, Rukma, Omo, Wowo, Sunarto, Wowo, Fatah Hidayat, Isak Udin, Parhim dan lain-lain. Pada kejuaraan-kejuaraan PSSI yang diselenggarakan secara periodic, PERSIB dianggap “Duta Bandung”, bahkan “Duta Masyarakat Jawa Barat”. Berkali-kali sejak pertama kali tahun 1937, PERSIB menjadi juara nasional. Karena pakaian seragamnya biru-putih, PERSIB biasa diberi gelar “Pangeran Biru”, dan karena PERSIB dianggap pejuang Bandung, oleh masyarakat sering diberi julukan “Maung Bandung”

Salah satu pelatih PERSIB yang dikenal bertangan dingin dalam menangani kesebelasan ini yang mengantarkannya menjadi juara pada beberapa kompetisi sepakbola di tingkat nasional maupun kejuaraan lainnya adalah Indra Mochamad Tohir. Indra Tohir lahir di Bandung, tepatnya di kawasaan Cigereleng Bandung Selatan pada tanggal 7 Juli 1941, dari pasangan Bapak Asik dan Ibu Omas. Suami dari Ibu Aat Ratnawati serta ayah dari 2 putera dan 1 puteri ini menyelesaikan SD serta SMPnya di Bandung. Selanjutnya Indra Tohir melanjutkan ke SGPD dan ke APD yang selanjutnya berubah nama menjadi STO/FPOK UPI. Statusnya saat ini tercatat sebagai pegawai Negeri/Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung jurusan FPOK.

Prestasi “Kang Tohir” demikian dia akrab disapa, di Persib dimulai sebagai pelatih fisik dari tahun 1984. Pada tahun 1990 melatih PSSI usia 14-16tahun. Tahun 1993 dibawah kepelatihannya, PERSIB menjadi Juara Perserikatan, tahun 1994 membawa PERSIB menjadi juara Liga Indonesia pertama. Sebagai pelatih, Tohir dikenal memiliki wibawa yang besar dikalangan pemain. Dalam melatih, Tohir tidak mengistimewakan pemain bintang dan tidak pilih kasih. Sebagai pelatih ia memiliki kiat, bahwa isterinya adalah isteri yang ke-2, isteri pertama adalah kesebelasan yang dilatihnya ini. Konsekuensi dari keseriusannya dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pelatih, Tohir tidak bisa meninggalkan latihan, sehingga terkesan seperti yang tidak percaya kepada asisten. Akan tetapi, dukungan isterinya dalam menjalankan tugas sebagai pelatih PERSIB cukup besar.

Menurut penuturan isterinya, KangTohir yang dikenal memiliki hobi menyanyi, Dansa, serta main golf, dulu dikenal sebagai pemain Base ball Nasional, taun ’67an, sedangkan Ceu Aat pemain Jabar. Walaupun memiliki hobi yang lain diluar sepakbola, dirinya tahu diri kalau mau latihan.

Sebagai pelatih, Kang Tohir Pernah melatih Persikabo Bogor, yang menaikkan status kesebelasan ini ke Divisi Utama (tahun 1997). Disiplin ke anggota keluargaan. Semua puteranya mewarisi darah ayahnya dalam hal olah raga. Beberapa catatan prestasinya melatih sepakbola, membawa dirinya untuk mengunjungi beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Philifina, Taiwan dan Perancis. Pernah pula menjadi pelatih terbaik Asia waktu PERSIB masuk menjadi grup 4 besar nasional dan Pelatih terbaik versi Majalah Bola.

Terakhir Kang Tohir yang rutin main golf 1-2 dalam seminggunya ini Menyampaikan saran untuk pelatih sepakbola lainnya, bahwa dalam melatih jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada pemain serta tidak boleh menghujat pelatih lainnya.

Dari:

KUSNET

ADE DANA

Ade Dana merupakan salah satu pemain besar yang pernah dimiliki Indonesia. Prestasi tertingginya bersama dengan rekan-rekannya seperti Aang Witarsa dan Rukma adalah membawa PSSI menahan imbang tim kuat, Uni Sovyet tanpa gol pada pertandingan Olimpiade di Melbourne tahun 1956. Berkat kecemerlangan itu pula ia juga pernah melanglang buana di Sovyet selama tiga bulan pada tahun 60-an.

Sampai saat ini prestasi tersebut dianggap sebagai prestasi paling fenomenal yang pernah tercatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Berkat itu pula, sampai akhir hayatnya, ia tetap menerima uang pensiun dari PSSI sebagai penghargaan atas jasa-jasanya tersebut.

Selain itu, almarhum pernah mengharumkan nama Persib ketika menjadi pemain pada era ’50-an dan bercokol sebagai salah satu tim elite nasional. Pada tahun 1957, Ade dana membawa Persib menduduki peringkat ketiga dan dua tahun kemudian membawa Persib naik ke posisi kedua. baru pada 1961, ia membawa Persib tampil sebagai juara kompetisi PSSI yang dilaksanakan di Semarang 1961. Atas keberhasilan tersebut, Persib kemudian ditunjuk mewakili PSSI dalam kejuaraan sepak bola ”Piala Aga Khan’ di pakistan 1962.

Sebagai pelatih, Ade Dana bersama Indra tohir dan Dede Rusli membawa Persib tampil menjuarai kompetisi perserikatan 1989-1990 dengan mengalahkan Persebaya 2-0 pada grand final melalui gol Dede Rosadi dan Sutiono. Selain itu, ia juga merupakan pelatih pertama di Jabar pada era ’80-an yang memiliki predikat S-1.

ADENG HUDAYA

Siapa yang tak kenal Adeng Hudaya? Bobotoh fanatik pasti tahu persis sepak terjang pemain satu ini. Maklum dia adalah Libero sekaligus kapten, Ketika Persib Bandung Berjaya dii pentas sepakbola nasional semasa kompetisi era perserikatan. Adeng Mulai bergabung dengan Tim Persib sejak tahun 1979, Sudah dua kali merasakan manisnya menjadi juara kompetisi kompetisi perserikatan yaitu pada tahun tahun 1986 dan 1989/1990. Ketika menjadi bagian dari tim nasional Indonesia A yang berlatih di Brasil, ia tidak sempat memperkuat Persib di Piala Hasanal Bolkiah (Piala Pesta Sukan II) 1986 di Brunei Darussalam. Karena “kehilangan” pemain andalannya tersebut, kemudian Persib memanggil dua pemain asal Bandung (Jawa Barat) yang memperkuat klub lain, yaitu Heri Kiswanto (Krama Yudha Tiga Berlian Palembang) dan Yusuf Bachtiar (Perkesa ’78 Sidoardjo). Tak hanya merasakan manisnya gelar juara, Kang Adeng pun ikut berjuang dari kampung ke kampung ketika Persib terlempar dari divisi utama pada musim kompetisi 1978-1980.

Begitu banyak pengalaman menarik selama Kang Adeng bergabung bersama Persib. Ini mejadii catatan tersendiri dalam perjalanan Karir Kang Adeng.

Perjalan karir pemain kelahiran Cikajang, Garut ini Di lapangan Hijau relatif mulus, Adeng muda Hijrah ke kota Bandung pada tahun 1977 untuk kuliah di FPOK UPI ( IKIP) Guna menyalurkan hobinya bermain sepakbola ia masuk klub POP dan selanjut nya POR UNI.

Rupanya Bakatnya yang hebat yang terbilang istimewa tak lepas dari pantauan para pencari bakat Persib. Tak heran dua tahun kemudian Adeng sudah masuk skuad inti Tim Maung Bandung.

Jadi Kiper ? Unik nya pada awal karir bersama Persib Bandung Justru kang Adeng bukan pemain belakang, ia malah di plot sebagai striker, Belakangan posisinya berganti ganti,selain jadi striker ia pun sempat mejandi gelandang bek sayap Hingga Kiper.

Bahkan sebagi kiper ia pernah turun sebagai pemain cadangan dalam satu laga kompetisii perserikatan 1984. Ceritanya saat itu Wawan dan Boyke yang biasa jadi pelapis Kiper utaa Sobur tak bisa turun karena cedera, Kang Adeng terpaksa di siapkan sebagai Kiper dadakan.

Pokok nya semua posisi sudah pernah saya tempati.saya baru dapat di tempatkan sebagai libero pada tahun 1985, posisi ini tidak berubah sampai saya mengundurkan diri pda tahun 1992.

Penampilan Adeng di lapangan hijau terkenal taktis dan elegan, gaya bermainnya mirip idola nya Franz Beckenbauer. Sebagai pemain belakang ia tergolong bersih jarang bermain keras.

Buktinya selama 13 tahun berkarir dalam skuad persib Adeng hudaya hanya sekali mendapatkan kartu kuning. Hukuman yang ia terima pun bukan karena mengganjal pemain lawan dengan keras melainkan sengaja memegang bola. Saat itu “saya berhadapan dengan striker Persija Kamarudin betay, kalau bola di biarkan saya pasti ketinggalan dan dia tinggal berhadapan dengan kiper ..kan bahaya. Karena itu tanpa pikir panjang bola tersebeut saya tangkap tujuan nya saya saat itu yang penting gawang Persib aman.. ungkap nya. Lucunya setelah di hadiahi kartu kuning Adeng malah di beri selamat oleh rekan rekan nya dan para pengurus Persib, maklum !! berkat tindakan nekat nya gawang Persib terhindar dari Gol. Itulah Kartu Kuning Pertama dan sekaligus kartu kuning terkhir selama berkarir bersama tim Persib Bandung.

ADENG HUDAYA FACT ( profil )

Lahir : Garut 30 juni 1957

Nama Istri : Euis Sumiarti Anak : Widia Oktaviana , yuda parlina Wina Khairina, Winda Karir klub : Pop, por Uni, Persib Bandung 1979-1992 – – Timnas (1986) Juara Pila kemerdekaan – Trining Camp di Brazil bersama PSSI A Pemain Favorit : Franz beckenbauer Ronny Patna sarani , Heri Kiswanto

Kapten Tim Persib Maung Bandung Terlama

Adeng hudaya merupakan pemain Istimewa, selain di kenal sportif saat berlaga di lapangan hijau jiwa kepemimpinan nya pun cukup kental. Para pelatih Persib tak ragu memilih nya sebagai kapten ia pertama kali mengenakan ban kapten pada tahun 1980 menggantikan senior nya Giantoro, sejak saat itu jabatan Kapten Persib tak pernah beralih ke orang lain tercatat 12 tahun ia menjadi kapten Maung Bandung. Adeng menjadi kapten terlama dalam sejarah Persib.Ban Kapten Persib baru di lepas ketika Karyawan Bank mandiri ini dengan resmi menyatakan mundur pada tahun 1992. Kiprah Adeng sebagai Kapten sekaligus pemain panutan dalam tim maung Bandung seolah mengikuti jejak para pemain favoritnya seperti Franz Beckenbauer , Ronni patinasarani, dan Heri kiswanto yang juga kapten di Tim nya masing masing. Mereka menjadi inspirator buat saya khususnya tentang bagaimana caranya berlaku dan bersikap di lapangan.

sumber:

id.wikipidea

Emen Suwarman (1)

NAMA “Guru” Emen Suwarman tidak bisa dilepaskan dari sejarah prestasi sepak bola Indonesia. Pria yang lahir di Cideres Majalengka, 18 Mei 1939 itu, memiliki andil besar membawa sepak bola Indonesia berbicara banyak di tingkat Asia. Ia menempati posisi gelandang.

Meski tahun 1960-an namanya tidak setenar “Guru” Wowo Sunaryo, Ramang, Sucipto, dll, tapi dia menjadi bagian terpenting di timnas. Ia membawa timnas meraih juara pada beberapa event internasional.

Emen lahir dari keluarga sederhana. Namun, bakat sepak bolanya sudah tertanam dalam diri suami dari Sri Wulan ini. Dalam kesehariannya semasa kecil, Emen tidak pernah lepas dari bermain sepak bola. Apalagi, rumah dia di Cideres dekat lapangan sepak bola.

Karena terus menggeluti sepak bola, dia menjadi lupa belajar. Akibatnya, dia tidak lulus sekolah ketika duduk di bangku SMP. Tapi, dia tidak sakit hati, bahkan terus bermain sepak bola. Di antara teman seusianya, kemampuan teknik individunya yang terbaik di daerah Majalengka.

Beberapa kali ia dibon memperkuat klub lain mengikuti turnamen sepak bola maupun pertandingan persahabatan. “Sekali main dibayar Rp 10 sampai Rp 15,” ujar Emen mengenang.

Malang melintang bermain sepak bola di daerah Majalengka, membuat nama dia cukup terkenal. Padahal saat itu, usianya baru 16 tahun (1955). Pada usia ini juga dia diterima menjadi PNS di RS Pembantu Jati Tujuh Majalengka. Meski sudah diangkat menjadi PNS, dia tidak pernah absen seminggu tiga kali melakukan lari sejauh 5 km dari Cideres ke Barujul Pabrik Kentang PP atau ke daerah Balida Pabrik Bata. Menjadi PNS dia dibayar Rp 75 per bulan karena pendidikan dia lulusan Sekolah Rakyat (sekarang SD-red).

Emen tiga tahun memperkuat Persima Majalengka. Selama itu, dia sering memperkuat tim Korem Cirebon atau Batalyon 306 Kompi V. Karena ingin melanjutkan karier sepak bola, dia terpaksa keluar dari pekerjaannya dan berhenti menjadi PNS. Ia hanya mengenyam status PNS selama tiga tahun.

Perjalanan Karier “Guru” Emen Suwarman (2)

Ambil Telur Duluan, Bayar Belakangan

SALAH satu rahasia sukses Emen Suwarman menjadi pemain sepak bola adalah memiliki fisik kuat. Dia juga berani bermain keras. Hal itu ditunjang pula dengan kemampuan teknik individunya yang cukup tinggi. Dengan begitu, dia sudah memiliki persyaratan lengkap menjadi pemain sepak bola yang layak memperkuat tim nasional.
Emen menceritakan pengalaman membentuk fisik kuat. Ia selalu rutin lari jauh pada siang hari. Tapi, agar badan tetap kuat, dia selalu makan telur kampung mentah sebelum lari.

“Malam hari sebelum latihan, saya ambil telor dari kandang ayam milik tetangga. Saya tidak punya uang jika harus membeli. Tapi, setelah saya punya uang dari main sepak bola, langsung bayar ke tetangga. Biasanya, tetangga kaget duluan ketika tiba-tiba saya kasih duit. Jadi istilahnya, ambil telor duluan, bayar belakangan,” ujarnya.

Menurut dia, jika tidak dibantu dengan makanan yang mengandung protein tinggi, dirinya bisa jatuh sakit karena latihannya cukup keras.

Penampilan Emen dalam pelbagai turnamen sepak bola di Majalengka membuat dia dipanggil memperkuat Korem Cirebon untuk kejuaraan sepak bola antar-Korem se-Jawa Barat di Stadion Siliwangi Bandung pada 1958. Saat itu, Komandan Korem Cirebon dijabat Letkol Aye Witono Leteu. Korem Cirebon juara ketiga, sedangkan Korem Bandung yang diperkuat antara lain Wowo Sunaryo, Sunarto, dan Pietje Timisela, tampil sebagai juara.

Sosok Emen pada kejuaraan itu, ternyata membuat Pangdam VI/Siliwangi, Kolonel Ibrahim Adjie, terpikat. Ia memerintahkan Kapomdam, Letkol Adela dan Intendans, Mayor Encon Muklisin, untuk memindahkan Emen ke Bandung memperkuat PSAD. Pada tahun 1959, Emen memperkuat Kodam Siliwangi mengikuti kejuaraan antar-Kodam di Bandung, bersama Wowo, Omo Suratmo, Sunarto, Yus Etek, dll. Kodam Siliwangi juara tiga kali berturut-turut yaitu pada 1958, 1959, dan 1960. Emen resmi pindah ke PSAD pada tahun 1960.

Nama Emen mulai dikenal luas di Bandung, sehingga dia juga dipanggil memperkuat tim Jabar pada PON V/1960 di Bandung. Bersama Ade Dana, Ishak Udin, Fatah Hidayat, Wardaya, Rukman, Sunaryono, Komar, tim Jabar meraih perak, setelah kalah WO dari Jateng karena menolak pertandingan ulang.

“Harusnya Jabar meraih emas. Pada final, Jabar menang 1-0 melalui gol Komar. Jateng protes langsung ke Menteri Olah Raga, Maladi. Protes Jateng diterima, sehingga harus diadakan pertandingan ulang. Tapi, Jabar menolak sehingga dinyatakan kalah WO,” ujar Emen mengenang.

Perjalanan Karier “Guru” Emen Suwarman (3)

Dipanggil Tony Pogacnic Perkuat Indonesia

KASUS suap pengaturan skor yang menguncang sepak bola Indonesia pada 1961, ikut memuluskan karier sepak bola Emen Suwarman. Kasus suap ini muncul saat Indonesia uji coba melawan Yugoslavia di Lapangan Ikada Monas pada 1961. Indonesia kalah 0-1. Padahal, Indonesia sebenarnya bisa melibas Yugoslavia. Pelatih Indonesia, Tony Pogacnic tidak percaya penampilan para pemain bintang Indonesia saat itu.

Pemain bintang Indonesia saat itu, sebenarnya dipersiapkan tampil pada Asian Games IV 1962 Jakarta. Akibat kasus itu, sejumlah pemain mendapat sanksi tidak boleh terlibat dalam sepak bola nasional.

Pogacnic resah dengan kondisi ini karena dia kehilangan beberapa pemain pilar. Untuk mencari pemain pengganti, PSSI menggelar invitasi sepak bola di Senayan, yang diikuti lima klub, yakni Persib, Persija, Persebaya, PSMS, dan PSM. Pada 1961, Emen sudah memperkuat Persib dan beberapa kali melakukan pertandingan uji coba ke daerah lain di luar Pulau Jawa.

Persib tampil sebagai juara tanpa terkalahkan. Persib mengalahkan Persija 2-0, Persebaya 2-0, PSMS 3-0, dan PSM 1-0. Penampilan Emen ternyata memikat Pogacnic.

Emen dipanggil bersama 11 pemain dari klub lain dipersiapkan untuk memperkuat Indonesia pada Asian Games 1962. Di Asian Games, Indonesia mendapat medali perunggu setelah pada semifinal dikalahkan Malaysia 2-3.

Tiga bulan kemudian, Emen memperkuat Indonesia di ajang Merdeka Games Malaysia yang diikuti 18 negara. Indonesia meraih juara dengan mengalahkan Pakistan 2-1 di final, pada 22 Agustus. Sebelumnya, Indonesia melibas Jepang 6-0 dan Korea 2-0.

“Saat itu saya merasa gembira sekali karena baru kali pertama ke luar negeri, bisa membawa Indonesia meraih juara. Karenanya, saya tidak pernah lupa tanggal dan tempat pelaksanaan penyelenggaraan karena itu merupakan sejarah bagi saya,” ujar Emen.

Nama Emen di kejuaraan itu langsung melejit karena dia tampil dengan permainan keras dan didukung dengan kemampuan teknik tinggi. “Saya tidak mencetak gol, tapi proses gol-gol Indonesia sering dari umpan-umpan matang saya,” kata Emen.

Setahun kemudian, Emen tampil bersama Wowo Sunaryo, pada ajang multievent internasional Games of The New Emerging Force s(Ganefo) di Senayan Jakarta. Pada event itu, Indonesia mengalahkan Jepang 6-0, Thailand 6-0. Langkah Wowo dkk. terhenti setelah dikalahkan Cile 0-1.

Perjalanan Karier “Guru” Emen Suwarman (4)

Keliling Asia Berkat Sepak Bola

SETELAH tampil pada ajang multievent internasional Games of The New Emerging Forces (Ganefo) di Senayan Jakarta 1963, Emen mulai keliling Asia memperkuat tim Indonesia.

Namun rangkaian pertandingan yang dimainkan adalah uji coba. Indonesia melawat ke Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Hong Kong, Cina, Pakistan, dll. Tim Indonesia saat itu, menjadi salah satu kekuatan Asia. Karena itu, meski bertindak sebagai tim tamu, Indonesia bisa mengalahkan lawan-lawannya. Misalnya di Tokyo, Indonesia melibas Jepang 6-0.

Tahun 1964, Emen pensiun dari status sebagai pemain nasional, pada usia 25 tahun. Namun, dia masih tetap menggeluti sepak bola memperkuat Persib. Oyong Liza, pemain nasional generasi setelah Emen, mengenal betul sosok Emen. Menurut dia, Emen ibaratnya singa liar ketika di dalam lapangan. Ia tidak takut bermain keras dan memiliki fisik kuat. Selain itu, tendangan kaki kanannya sangat keras. “Permainan Emen tanpa kompromi,” ujar Oyong ketika ditanya sosok Emen, saat bertemu “PR”, Juli lalu, di Padang Sumatra Barat.

Menurut dia, Emen merupakan pemain gelandang dengan kemampuan teknik individu tinggi. Umpan-umpan dari dia sangat akurat. Karena itu, dia termasuk salah satu pemain yang ikut mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat Asia.

Bersama Persib, Emen ikut dalam beberapa kali pertandingan uji coba internasional di Stadion Siliwangi Bandung, melawan Jerman Timur, Yugoslavia, Cekoslowakia, Prancis, Hongaria, Bulgaria, selama 1964-1968. Dalam ingatan dia, Persib kalah 0-1 dari Bulgaria, Prancis, dan Cekoslowakia. Kemudian imbang tanpa gol melawan Hongaria. Tapi, pada 1966, Persib menang 1-0 atas Jerman Timur, melalui gol yang dicetak striker asal Sumedang, Otong.

Persib saat itu diperkuat Komar, Wowo Sunaryo, Djadjang Haris, Rukman, Soenaryono, Fatah Hidayat, Sunarto, Ilyas Dade, Ishak Udin, dll. ” Dulu tim-tim dari luar negeri itu melakukan rangkaian uji coba ke Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, atau Makassar. Dibandingkan dengan tim-tim Perserikatan lain, skor kekalahan Persib ini paling kecil. Kalau mereka kalahnya dengan skor lebih dari 2-0,” ujar Emen mengenang.

Perjalanan Karier “Guru” Emen Suwarman (5)

Gagal Bawa Persib Juara Perserikatan

RASA penasaran yang masih mengganjal dalam benak Emen Suwarman adalah belum pernah membawa Persib meraih juara Kompetisi Perserikatan. Selama 13 tahun memperkuat Persib, dari 1960 hingga 1973, Persib lebih sering menjadi runner-up. Padahal, Persib saat itu diperkuat 13 pemain yang membela tim Indonesia.

Mereka adalah Emen Suwarman, Komar, Djadjang Haris, Rukman, Soenaryono, Ishak Udin, Fattah Hidayat, Sunarto, Suhendar, Hengky Timisela, Omo Suratmo, Wowo Sunaryo, dan kiper Yus Etek. “Di babak penyisihan, Persib selalu menang besar atas lawan-lawannya. Tapi, di final kalah terus. Persib paling sering kalah oleh PSM Makassar,” ujar Emen.

Dalam ingatan dia, sejak meraih juara Kompetisi Perserikatan 1960/1961 dengan mengalahkan PSIS 2-0 di Semarang, Persib lebih sering menjadi runner-up. Namun, pada kompetisi 1960/1961, Emen belum masuk tim inti Persib. “Saat itu, Persib memiliki banyak pemain, sehingga dibentuk tiga tim yaitu Persib Garuda, Harimau, dan Banteng. Saya masuk Persib Banteng,” ujar Emen.

Menurut dia, Persib lebih sering juara pada tingkat turnamen. Padahal, klub-klub yang ikut serta adalah yang berlaga di Kompetisi Perserikatan. Persib juara Piala Siliwangi di Bandung, Piala Brawijaya di Surabaya pada 1968, dll.

Setelah pensiun dari Persib, Emen memperkuat PSAD hingga 1980 pada kompetisi Divisi Persib. Kemudian, Emen mendapat kepercayaan menjadi pelatih dan beberapa kali membawa PSAD meraih juara kompetisi Divisi Utama Persib. Salah satu pemain yang dibina antara lain kiper Sobur dan Samsudin. Emen menjadi pelatih PSAD hingga 1995. Pada tahun ini, Emen juga pensiun dari PNS di Kodam III/Siliwangi dengan golongan terakhir II-D.

Sebutan Guru Emen bermula saat menjadi pelatih sepak bola tim SMPN 17 Bandung pada 1975. Ia melatih tim tersebut 7 tahun. Selama menjadi pelatih, Emen mendapat honor, pakaian, dan beras. Apa yang diterimanya, sama seperti guru-guru lain. Padahal, status dia hanya sebagai pelatih. “Saat itu, murid-murid memanggil saya guru, dan sampai sekarang hampir semua yang mengenal memanggil saya, Guru Emen,” ujar Emen.

Perjalanan Karier ”Guru” Emen Suwarman (6-Habis)

Menikmati Masa Tua di Persib

PENGALAMAN matang meniti karier di sepak bola, membuat Emen Suwarman mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih Persib bersama Djajang Nurdjaman pada Kompetisi Perserikatan 1993/1994 dan Liga Indonesia I 1994/1995.

Pelatih kepala Persib saat itu, Indra Thohir. Pada dua event itu, Persib meraih juara. Posisi Emen terus bertahan sampai Persib tampil pada Liga Champions Asia. Ia sempat ikut ke Thailand dan Filipina.

Pada 12 tahun lalu, fisik Emen masih segar bugar, sehingga dia bisa konsentrasi penuh menjalankan tugas sebagai asisten pelatih. Apalagi, Emen memiliki segudang pengalaman, sehingga kinerja dia bersama Djadjang sangat membantu Thohir.

Menurut dia, sukses Persib di Liga Indonesia karena memiliki pemain yang sudah kompak. Mereka sudah terbina cukup lama semasa Kompetisi Perserikatan, sehingga jiwa pemain sudah bersatu. “Saat itu, Persib sulit untuk dikalahkan. Tim itu kuat dan hampir sama ketika saya masih aktif bermain sepak bola dulu,” ujarnya.

Setelah sukses itu, Emen berhenti dan kembali membantu PSAD. Namun, pada Kompetisi Liga Indonesia VII 2001, Emen masuk kembali dalam jajaran ofisial Persib. Jabatannya menjadi masseur. Ia bertahan hingga kompetisi 2003. Setahun kemudian, posisi dia diganti orang lain.

Pada kompetisi 2005, dia masuk kembali dengan posisi tetap sebagai masseur, dan dipertahankan hingga kompetisi 2007. Sebenarnya, nilai penghargaan prestasi dia dulu dengan jabatan saat ini sebagai masseur, tak sebanding. Namun, hal ini tidak membuat Emen merasa rendah diri.

“Seorang masseur merupakan bagian terpenting dalam klub. Saya sudah merasakan ketika masih aktif menjadi pemain karena sering dipijat masseur tim. Jika pemain ada yang cedera otot atau pegal-pegal, menjadi tugas masseur untuk menyembuhkannya. Saya menikmati pekerjaan ini,” ujarnya.

Dengan jabatan sebagai masseur, Emen mengaku lebih dekat dengan pemain Persib karena tiap hari selalu berinteraksi.

Hal ini dimanfaatkan dia untuk memberikan saran, dan sekaligus transfer ilmu sepak bola yang dimilikinya sejak masih aktif bermain sepak bola.

“Kalau lagi bertugas (memijat), saya selalu mengingatkan pemain harus begini atau begitu. Semua ini untuk kemajuan pemain juga,” ujarnya.

Menurut dia, ilmu memijat yang dimilikinya tidak datang begitu saja. Dia belajar cukup lama dari seseorang yang cukup pintar memijat. “Saya harus tirakat untuk menyelesaikan ilmu memijat ini,” ujar pria berusia 68 tahun ini.

Dari pernikahan dengan Sri Wulan, Emen dikaruniai 9 anak, yakni Feri Indrayuwono, Yulianti, Dedi Grisnadi, Indrayanti, Herindro Tresno, Rini Silvia Dewi, Irmayanti, Yadi, dan Ike. Emen juga sudah memiliki delapan Cucu.

Kepiawaian Emen dalam memainkan bola sempat diperlihatkan kepada pelatih Persib, Arcan Iurie Anatolievici. Saat itu, Persib tengah melakukan latihan di hotel di Cilegon Banten, dalam persiapan menghadapi tuan rumah Persitara pada kompetisi 2006. Bola yang ditendang jauh oleh salah seorang pemain, langsung dikontrol Emen dengan bagian dalam kaki kanan.

Bola langsung berhenti di kaki. Hal ini membuat Iurie memberikan aplus tepuk tangan dan melakukan push up sebagai tanda penghormatan kepada dia. Saat Persib latihan, terkadang Emen ikut memainkan bola di pinggir lapangan. “Kalau gaya menendang masih ada. Tapi, diajak main sudah tidak kuat,” ujarnya.

(Irfan Suryadireja/”PR”)

40 Balasan ke LEGENDA

  1. JULY CRIEZLAURENT DIANTYANGGRAENI mengatakan:

    hy,,,,BANDUNG pkbr’X???????gw brhrp lo sn’a bae” Z.
    N lo jgn smpe lp ma gw krn gw pndkung sjti lo,,,

  2. danitea mengatakan:

    hidup persib ah

  3. […] Berkata: Oktober 7, 2006 pukul 2:59 pm | Balas Lebetkeun Adjat […]

  4. sd juara mengatakan:

    kang dada di antos atuh lapang anyarna karunya persib maenna di mana wae,BAGIMU PERSIB ……..JIWA RAGA KAMI……..?

  5. bohenz_ mengatakan:

    abdi salut ka kang tohir….
    tos tiasa ng jungjung tinggi persib sangkan persib…
    janten sperstar…

    ech bade naroskeun saatos pansiun janten pelatih persib, kang tohir ayeuna janteun naon?…
    nyuhunkeun d jawab…!!!!!

  6. uus mengatakan:

    persib
    harusbelifagundeskalaumaujadijuara

  7. anang ruslan mengatakan:

    wah jadi teurang tah ayeunamah

    saha nu legenda teh…
    moga aya caritaeun kanggo urang sadaya..
    khususna budak kamari ieu siga simkuring

  8. Ake mengatakan:

    ADJAT kudu asup tah………..
    salah satu sang FENOMENAL SEPAK BOLA NASIONAL

  9. ws Antapani mengatakan:

    Kamana wae atuh Viking teh!!! Pokonamah Liga Super engke, Viking kudu transparan masalah Pemasukan duit pertandigan… itung2 ngabantuan PANPEL nu belegug keneh ngurus pertandingan boh tiket jeng fasilitas penjualan tiket… Calo ANjing lah,,nipu bobotoh sorangan,,,BUBARKEUN CALO!!!

  10. counterstr mengatakan:

    pre teen pageant gown

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: