Dobrak Kultur Amatir Persib


Perubahan status Persib menjadi klub profesional akan menimbulkan pro dan kontra. Namun, Pengurus Persib dituntut untuk berani mendobrak secara radikal kultur amatir yang sudah melekat, karena suatu saat nanti perubahan status menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Praktisi manajemen Hotasi Nababan mengemukakan hal itu dalam lokakarya terbatas “Status Persib Menjadi Badan Hukum”, dengan tema “Berbenah diri untuk memenuhi persyaratan sebagai peserta Liga Super Indonesia 2008”, di Auditorium Rosada Pemkot Bandung, Sabtu (15/3).

“Perubahan ini pasti menimbulkan pro dan kontra. Akan tetapi, ada pertanyaan mendasar, apakah Persib mau profesional atau tidak? Jika mau berubah profesional, sekarang harus tutup buku dan memulai yang baru. Sebaliknya, jika ingin tetap amatir, ya kondisinya seperti ini terus saja,” ujar Hotasi.

Menurut dia, saat status Persib berubah menjadi badan hukum, dalam susunan personalianya tidak lagi didominasi dari kalangan sepak bola, personelnya hanya dari kalangan bisnis. Alasannya, kata Hotasi, pemikiran orang yang selama ini berkecimpung dalam sepak bola dan bisnis, jauh berbeda. Orang bisnis, lebih fokus membuat konsep untuk menghasilkan pendapatan untuk perusahaan (klub). “Dari kalangan sepak bola bisa masuk, tetapi khusus untuk bidang teknik, seperti jabatan direktur teknik,” ujarnya.

Hotasi mencontohkan bisnis di penerbangan. Orang-orang yang sukses di bisnis ini, bukan berasal dari kalangan penerbangan sendiri, mereka berasal dari kalangan bisnis lain.

“Orang di dunia baru memiliki terobosan-terobosan bisnis. Berbeda dengan orang-orang yang berkecimpung pada satu bidang tertentu, seperti sepak bola. Pasti tahunya hanya seputar itu saja. Orang yang dipilih masuk manajemen Persib digaji, karena mereka seorang profesional,” ujar Hotasi, yang baru dua pekan lalu mundur dari jabatan Dirut Merpati Nusantara Airlines.

Lokakarya ini menghadirkan pembicara Sekda Kota Bandung Dr. H. Edi Siswadi, M.Si., praktisi hukum Dindin S. Maolani, Direktur BLI Joko Driyono, dan praktisi pemasaran Hilman Purakusumah.

Edi membawakan materi “Anggaran dan Skenario Kelembagaannya”, Dindin membahas “Persib di Bawah Naungan Badan Hukum”, dan Joko menyampaikan makalah “Indonesia Super League 2008”. Sedangkan Hilman Purakusumah memaparkan makalah berjudul “Sepak Bola Sebagai Industri: Mengapa Tidak?”.

Edi menyetujui konsep perubahan status Persib menjadi profesional. Menurut dia, suatu saat nanti pendanaan dari APBD untuk sepak bola bisa dilarang, sehingga dari sekarang perlu langkah konkret menuju kemandirian klub.

Joko Driyono mengatakan, perubahan status dimaksudkan agar klub memiliki orientasi bisnis jangka panjang, sehingga mereka menjadi sebuah perusahaan yang menguntungkan. Persyaratan itu berdasarkan ketentuan dari FIFA melalui AFC. “Idealnya 2012 klub-klub sudah bisa mandiri,” ujarnya.

Perubahan status, kata Joko, pasti menimbulkan pro dan kontra, namun suatu saat nanti perubahan mesti dilakukan. Oleh karena itu, dia menegaskan, dari sekarang lebih baik klub-klub sudah memikirkan tahapan-tahapan yang bisa dilakukan untuk mencapai kemandirian pada 2012.

Hotasi Nababan menambahkan, perubahan secara radikal mesti dilakukan juga oleh para pencinta (bobotoh) Persib. Mereka harus ikut mendukung Persib seperti membeli karcis pertandingan, tidak bersikap anarkis, dll. “Selama ada yang sakit hati dengan konsep-konsep perubahan, lebih baik jaga jarak dulu dengan Persib. Memang mengubah kultur sepak bola sulit, tetapi harus berani,” ujarnya.

Tidak perlu takut

Dalam kesempatan itu, Hotasi juga mengingatkan bobotoh atau pengurus tidak perlu takut dengan perubahan status Persib menjadi badan hukum. Kalaupun nanti pemilik saham terbanyak adalah orang lain, kewenangan mereka masih bisa dibatasi, karena klub anggota atau pemkot bisa memiliki saham veto, meski hanya 1 persen.

“Saat pemilik saham terbanyak ingin memindahkan tempat ke daerah lain, pemilik saham veto bisa menolak. Maka, Persib tidak bisa pindah. Contohnya Sampoerna, meski sahamnya dijual ke asing, tetapi pemilik lama memiliki saham veto, sehingga tidak bisa pindah ke luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Hilman Purakusumah mengatakan, jika perubahan tersebut masih mengalami kesulitan, lebih baik dari sekarang Persib memulai langkah dengan melakukan terobosan komersialisasi. Dia menjelaskan, Persib harus mencoba mendapatkan dana tambahan lain, di antaranya dengan mengoptimalkan penjualan tiket pertandingan, hak siar televisi, dan sponsor-sponsor.

PIKIRAN RAKYAT

4 Balasan ke Dobrak Kultur Amatir Persib

  1. tejo mengatakan:

    sok atuh lah,,diliat persib bisa jadi pro ato engga…
    jangan ngabisin uang rakyat terus.

    Maung Bandung go pro!

  2. aDhy jR mengatakan:

    alus atuh mun geus bisa jadi pro….

    sim kuring mah ngadukung pisan.

  3. lanphuong mengatakan:

    Thank you, You can visit http://nghecon13.googlepages.com“>
    “The top blogs of the day” report

  4. ibanz gayo mengatakan:

    Setujuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!tidak ada kata tidak untuk kemajuan PERSIB!!!! sekarang atau TIDAK SAMA SEKALI!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: