H. Ateng Wahyudi: “Nista, Maja, Utama”


SETELAH terpuruk pada dekade ’70-an dan sempat terlempar dari kelompok elite Kompetisi Perserikatan pada tahun 1978, Persib langsung melakukan konsolidasi ke dalam. Pembinaan pemain muda berbakat secara konsisten dan berkesinambungan dilakukan pada awal dekade ’80-an. Untuk menempa para pemain berbakat ini, Ketua Umum Persib, Solihin G.P. mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota.

Setelah dua tahun berjalan, pembinaan pemain muda yang dilakukan Persib mulai membuahkan hasil. Dengan ciri khas sepak bola indahnya, Persib kembali menjelma menjadi salah satu tim yang disegani. Sayang, pada musim 1982/1983 dan 1984/1985, Persib belum mampu tampil sebagai juara. Adeng Hudaya dan kawan-kawan dua kali kandas di final setelah dikalahkan PSMS Medan melalui drama adu penalti.

“Nista, maja, utama”, itulah kalimat yang terucap dari mulut H. Ateng Wahyudi, Ketua Umum Persib baru yang menggantikan Solihin G.P., begitu Persib akan tampil di Kompetisi Perserikatan 1985/1986. Kalimat tersebut ternyata sangat mujarab. Setelah dua kali gagal di final pada musim sebelumnya, kali ini Persib berhasil memboyong Piala Presiden ke Bandung, setelah menumbangkan Perseman Manokwari 1-0 pada pertandingan final di Stadion Utama Senayan Jakarta. Gol tunggal Persib pada partai final dicetak Djadjang Nurdjaman.

Materi pemain yang mengantarkan Persib menjadi juara pada tahun 1986 itu tidak lain generasi emas hasil binaan sejak awal dekade ’80-an. Mereka adalah Sobur, Boyke Adam (penjaga gawang), Wawan Hermawan, Wawan Karnawan, Ade Mulyono, Suryamin, Ujang Mulyana, Sarjono, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yoce Roni, Kornelis, Ajid Hermawan, Ajat Sudrajat, Yana Rodiana, Sam Triawan, Iwan Sunarya, Dede Rosadi, Djadjang Nurdjaman, Sukowiyono, Suhendar, Kosasih, dan Djafar Sidik. Pemain-pemain berbakat itu ditangani pelatih Nandar Iskandar.

Selain mengakhiri masa penantian selama 25 tahun, keberhasilan Persib membawa pulang Piala Presiden ini pun mengantarkan Persib untuk tampil di Turnamen Sepak Bola Piala Sultan Hasanal Bolkiah di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam sebagai wakil Indonesia. Di turnamen ini, Persib pun tampil sebagai juara setelah mengalahkan tim nasional Malaysia 1-0 pada pertandingan final. Gol tunggal kemenangan Persib dicetak Yusuf Bachtiar.

Persib 1986 ini juga menjadi tonggak prestasi Persib sebagai tim yang disegani lawan dan dikenal sebagai tim yang memperagakan sepak bola indah. Selain itu, Persib juga mampu menobatkan diri sebagai tim besar yang bisa membangun fanatisme bobotoh-nya. (endan suhendra/ “GM”)**

4 Balasan ke H. Ateng Wahyudi: “Nista, Maja, Utama”

  1. yogakasep mengatakan:

    sok ah jangan bernostalgia aja… terbukti kemenangan itu berkat perjuangan yang gigih semua pihak… yu maju maung bandung….

  2. Lukman mengatakan:

    Ayo Persibku….bangkitlah dari keterpurukan…tong ngerakeun Bandung…

  3. Darmawan mengatakan:

    Wah, saya baru lihat blog PERSIB niCH, terima kasih atas penampilannya yang informatif. Saya pendukung BERAT PERSIB EUY. Majulah KANG DADA, OMAT PERSIB SING JUARA DI LIGA INDONESIA TAHUN 2008 MAH. OMATnya sakali lagi, hehehehe

  4. sriwijayafc1 mengatakan:

    Memang Persib Mental Juaranya dari dulu. Kalian hebat fren…Semoga musim 2008 ini tambah hebat en bisa bersaing dengan kita SFC.
    Salam Sportif..

    SFC1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: