Tragedi di Surakarta Hadiningrat


PADA 14 Maret 2008 mendatang, Persib Bandung akan memasuki usia 75 tahun. Sejak didirikan pada tahun 1933, tim kebanggaan warga Kota Bandung ini pernah 5 kali menjadi juara. Yaitu pada Kompetisi Perserikatan 1937, 1961, 1986, 1990, dan 1994, sekali juara Liga Indonesia (LI) I/1994-1995 serta sederet trofi turnamen lainnya. Menjelang hari jadi yang mungkin merupakan ulang tahun terakhir Persib sebagai sebuah perserikatan, sebelum berubah status menjadi klub profesional seperti tuntutan Badan Liga Indonesia (BLI), “GM” mencoba menyajikan cerita manis ketika Persib tampil sebagai jawara, baik di Kompetisi Perserikatan maupun LI. Harapannya, cerita indah itu bisa terulang ketika Persib berlaga di Liga Super Indonesia (LSI) yang mulai digulirkan tahun ini.

DEKADE 1930-an adalah awal perkembangan kompetisi sepak bola di Indonesia. Kendati tidak sementereng VIJ Jakarta, Persis Solo, dan PSIM Yogyakarta, prestasi Persib ketika itu sudah cukup disegani. Di usianya yang masih sangat muda sejak resmi didirikan pada 14 Maret 1933, Persib bisa langsung berbicara banyak di kancah sepak bola nasional ketika menjadi runner-up pada kompetisi 1933, 1934, dan 1936.

Pada tahun 1937, sejarah emas akhirnya ditorehkan Persib, ketika untuk pertama kalinya tampil sebagai juara, usai mengalahkan raksasa sepak bola Indonesia ketika itu, Persis Solo 2-1 di Stadion Sriwedari Surakarta (sekarang Solo, red). Sayang, tidak ditemukan catatan pasti tim mana saja yang mengikuti kompetisi pada tahun itu.

Menurut catatan almarhum R. Ading Affandi (RAF) dalam Lintasan Sejarah Persib buah karya Risnandar Soendoro (2001), peserta kompetisi tahun 1937 adalah PSIM (juara 1932), VIJ Jakarta (juara 1933, 1934), dan Persebaya Surabaya. Dari sumber lain ditemukan, PSIT Cirebon juga menjadi peserta dan berhasil merebut posisi ketiga kompetisi tahun itu.

Kemenangan Persib atas Persis itu merupakan kejutan terbesar sepanjang sejarah sepak bola Indonesia ketika itu. Seperti diceritakan RAF, saking tidak percayanya, saat itu warga Jawa Tengah menyebut kekalahan Persis dari Persib itu sebagai “Tragedi di Surakarta Hadiningrat”. Tragedi itu terjadi pada suatu hari Minggu di bulan Juni 1937.

“Ajaib! Apa bener?”, “Aneh, kok isoh ngono, ya Mas?”, “Ongelovelijk (Tak masuk akal)!”, “Memang Edan!”, itulah sejumlah kutipan yang mengekspresikan keterkejutan warga Jawa Tengah mendengar kabar kekalahan Persis itu.

Kejutan yang dibuat Persib itu terasa semakin menggemparkan, karena partai final digelar di Stadion Sriwedari Solo yang dipadati pendukung Persis. Selain itu, tim tuan rumah yang berkostum putih-merah sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Mereka tampil full team, dengan memasang kiper terbaik Indonesia saat itu, Maladi yang bisa loncat seperti tupai, “Si Kingkong” Maryo, pemain belakang pilih tanding, dan pemain pujaan Solo lainnya seperti Marno, Yazid, Sutris, dan Arman.

Tanpa pesta

Kehebatan Persis yang diramalkan bakal menang 5-0 atas Persib memang sangat luar bisa pada awal permainan yang berlangsung 2 x 35 menit. Permainan tik-tak pendek menyusur tanah, divariasikan dengan sapuan-sapuan keras pemain belakang dan umpan lambung pemain sayap diperagakan para pemain Persis. Dengan dukungan kemampuan individu di atas rata-rata dan kerja sama tim yang apik, Persis memperagakan permainan cantiknya.

Ketika pertandingan baru berjalan sembilan menit, Persis membuka keunggulan. Sutris menjebol gawang Persib yang dikawal Enand Durasid. Gegap gempita pendukung tuan rumah yang memadati Stadion Sriwedari pun terjadi. Bahkan, Yazid mulai membadut. Ia berlari membawa bola sambil pura-pura kedodoran celananya. Badutan Yazid itu tentu saja disambut sukacita penonton.

Hingga menit ke-25, Persis masih mampu mendikte permainan Persib. Namun menjelang turun minum, para pemain Persib seperti Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, Adang mulai menggeliat. Bak singa lapar dan badak yang tak kenal takut, para pemain Persib mulai mengamuk. Ibrahim mulai tampil perkasa dengan berani beradu badan, Adang dan Sugondo pun tampil semakin lincah untuk membingungkan penjaga gawang Maladi.

Di babak kedua, permainan Persib semakin menggila. Pada babak kedua ini, Persib mampu membalikkan keadaan dengan mencetak dua gol secara beruntun. Setelah dua gol yang sayang tidak diceritakan RAF siapa pencetaknya itu, langsung membuat pendukung tuan rumah terdiam. Sebaliknya, kubu Persib mulai berjingkrak, termasuk ofisial Aleksa, Yunus, Sadikin, dan wartawan Sipatahoenan, Kurdi.

Berkat gelar juara yang diraihnya itu, seluruh pemain Persib masing-masing mendapatkan uang saku sebesar F 2,50 (seringgit, dua rupiah, lima puluh sen). Hanya itu. Para pahlawan Persib itu pulang tanpa membawa bonus, resepsi penyambutan, syukuran, dan dielu-elukan. Seluruh anggota tim Persib setibanya di Stasiun Bandung langsung bubar dan pulang ke rumahnya masing-masing, kecuali Alexa yang membawa piala, dijemput dua anaknya, dan Adang yang dijemput istrinya. (endan suhendra/”GM”)**

7 Balasan ke Tragedi di Surakarta Hadiningrat

  1. Anton mengatakan:

    selamat ulang tahun buat PERSIB ku tercinta, mudah2an di tahun ini bisa lebih baik dari tahun kemarin. dan mudah2an para BOBOTOH nya mulai bersikap dewasa, tidak seperti kemarin yang kebanyakan kekanak-kanakan dan brutal.
    HIDUP PERSIB

  2. t1ntu5 mengatakan:

    bisa ka ulang deui teu nya, moment endah kawas kitu ..mudah2 han,,aminn

  3. muizemo mengatakan:

    met ultah buwat persib bandung.semoga berprestasi .salam dari bonek manukan.

  4. BUdi Aha mengatakan:

    persib memang edan……. jawara tanpa tanding…. pokokna hidup persib.

  5. Epsensyah,Jaktim mengatakan:

    PERSIB, TEAM KEBANGGAAN .

  6. O-S mengatakan:

    HEBBBBBaT persib!!!!!!

  7. anggun pribadi mengatakan:

    hidup persib!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: