Suwita dkk. Harus Bermain Lebih Sabar


PARTAI perdana selalu menentukan untuk perjalanan selanjutnya. Alhamdulillah, Persib telah melaluinya dengan bagus. Menghadapi sepak bola penuh semangat khas anak-anak rencong Aceh, Suwita Pata dkk. sukses merebut kemenangan.

Sebagaimana kita ketahui, dalam lawatannya ke Sumatra kali ini, kubu Persib menargetkan minimal empat angka. Masing-masing 3 (menang) dari Persiraja, kemudian 1 (seri) dari PSDS Deli Serdang. Sekali lagi, ini target logis dan amat realistis.

Proses kemenangan dari Persiraja cukup menarik. Selain kedua gol dicetak gelandang (pemain tengah), Eka dan Cabanas, Persib turun dengan format 3-6-1. Persib hanya menurunkan satu striker (Zaenal Arief), hingga menit ke-70, sebelum pelatih memasukkan Barkaoui menggantikan Suwita Pata.

Dua gol Persib dari pemain gelandang juga merupakan perkembangan bagus. Ternyata, gelandang Persib cukup produktif. Dalam hal membobol gawang lawan, Persib tidak hanya tertumpu kepada peran striker. Gelandang juga ikut aktif menjadi pemukul alternatif. Begitulah sepak bola modern seharusnya dimainkan. Setiap pemain mesti mampu dan sanggup berperan ganda.

Namun, di sisi lain, tim pelatih tetap harus mengkaji lagi, bagaimana proses gol-gol itu terjadi. Apakah konsep hanya menurunkan seorang striker, didukung enam gelandang, sudah benar-benar efektif. Dengan hanya memainkan striker tunggal, kemudian memasang enam gelandang, tentunya dimaksudkan untuk bermain lebih save (bertahan). Dalam upaya membobol gawang, lebih banyak memanfaatkan serangan balik.

Pertanyaannya, apakah kedua gol prosesnya sudah sesuai skenario (strategi) yang ingin dikembangkan pelatih?

Hal itu penting dicermati. Bukan mustahil, kondisi seperti dialami saat melawan Persiraja, kembali dihadapi Persib pada partai-partai mendatang. Entah karena masalah apa, di lini depan hanya bisa memainkan satu di antara Arief, Bekamenga, atau Barkoui.

Lantas apakah Arcan Iurie kembali akan memainkan pola serupa seperti di Aceh, siapa pun lawan yang dihadapinya?

Memang benar, sejauh memberikan hasil, pola apa pun baik-baik saja. Namun, sebaiknya lihat-lihat dulu lawannya. Pola “bertahan” 3-6-1 mungkin tepat untuk menghadapi lawan-lawan superberat. Akan tetapi, kalau “cuma” menghadapi tim (maaf) sekelas Persiraja, rasanya lebih baik tetap memainkan pola standar atau yang lebih baku, walau harus sedikit mengubah komposisi pemain.

Misalnya menghadapi PSDS sore ini, walau kondisi Barkaoui masih tetap mengkhawatirkan, sebaiknya Persib tetap memainkan pola baku 3-5-2. Sebagai rekan duet Zaenal Arief, tim pelatih bisa mendorong Cabanas lebih ke depan. Kebetulan dia tipikal gelandang serang sejati. Jadi tidak akan banyak menghadapi masalah, jika pun coba dimainkan sebagai striker. Persis seperti Fancesco Totti di Roma atau tim nasional Italia, dalam keadaan darurat, dia bisa dimainkan di posisi striker.

Di Banda Aceh, kita masih bisa menang, akan tetapi lawan selanjutnya harus lebih hati-hati. Kendati bukan tim favorit juara, terutama jika main di kandang, PSDS benar-benar mirip batu cadas. Mereka sulit dikalahkan. Minggu (11/2) lalu, Ansyari Lubis dkk. baru saja memakan koban. PSS Sleman digasak 2-0. Padahal, PSS ditangani pelatih Argentina dan diperkuat para latino.

Jangan lupa pula, belakangan ini mereka seolah sudah paham betul, bagaimana caranya meredam anak-anak Bandung. Apalagi kalau bukan dengan menampilkan permainan cepat, penuh tenaga, serta sedikit keras. Kita tentu masih ingat, pada musim lalu mereka menang, baik di kandang maupun saat bertandang ke Stadion Siliwangi.

Kini, mereka ditangani pelatih sarat pengalaman serta halak kita sejati, Tumpak Sihite. Bukan tidak mungkin, anak-anak PSDS akan semakin kental saja memainkan sepak bola rap-rap-nya.

Menghadapi tim-tim seperti ini, Persib kerap kedodoran serta terkesan kalah nyali. Itulah yang pertama-tama harus dihilangkan. Suwita Pata dkk. jangan sampai kalah gebrak!

Tidak harus secara utuh meladeni gaya main mereka. Dengan modal keunggulan skill (materi) dan pengalaman, pemain Persib harus tetap merasa yakin bisa meredam apa pun strategi yang mereka mainkan. Salah satu kuncinya jangan mudah kehilangan bola.

Saat menghadapi Persiraja, Persib memilih langsung melakukan gebrakan sejak menit-menit awal. Hasilnya, dengan cepat bisa menciptakan gol. Namun, setelah itu justru Persib jadi bulan-bulanan lawan. Menghadapi PSDS sore ini, barang kali strateginya bisa agak dibalik. Persib lebih bermain sabar, namun bukan berarti main defensif. Melakukan lebih banyak possession football, mungkin akan berguna sekali untuk meredam permainan cepat dan keras tuan rumah. Baru setelah itu melakukan tekanan balik, memanfaatkan kelengahan dan (mudah-mudahan) rasa “frustrasi” lawan. Semoga menang lagi Persib!

PIKIRAN RAKYAT

4 Balasan ke Suwita dkk. Harus Bermain Lebih Sabar

  1. taufik mengatakan:

    namina ge atuh sepakbola, keun we upami eleh ge, nu penting urang nikmati we permainan persib teh…, sepakbola teh hiburan jadi persib kudu maen cantik…
    Meunang ge ari dibantuan ku wasit mah teu resep atuh…

  2. jabheul mengatakan:

    ari menang we meni gancang diposting. eleh mah…hah hoream nya ? pis ah

  3. ghonie mengatakan:

    duh manya tuh sib karek ge babak 1 geus kaasupan 2 gol ah aing mah kecewa tp kaleum aing yakin keneh bisa ngasupkeun gol

  4. Yoni mengatakan:

    alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: